Berikut adalah cerita tentang perjuangan, disiplin, dan kebersamaan dalam kegiatan ekstrakurikuler Taekwondo di Pondok Pesantren Ar-Rohmah, Malang.
Tendangan di Bawah Langit Dau
Sore itu, angin dingin khas Dau, Malang, mulai turun menyelimuti kompleks Pesantren Ar-Rohmah. Di saat sebagian santri memilih untuk beristirahat di kamar setelah penat dengan setoran hafalan Al-Qur’an dan kelas formal, sekelompok santri berbaju putih bersih justru tengah berkumpul di lapangan.
Mereka adalah anggota Ekstrakurikuler Taekwondo Ar-Rohmah. Di antara mereka, ada jagoan kita bernama Fahri, seorang santri kelas 11 yang sore ini punya misi besar: menguasai gerakan Taegeuk 4 demi ujian kenaikan sabuk hijau ke sabuk biru minggu depan.
Semangat “Kiyap” yang Memecah Hening
“Semuanya, ambil posisi! Charyeot.. Gyeongnye!” seru Sabeum (pelatih) dengan suara lantang.
Seketika, atmosfer lapangan berubah. Tidak ada lagi canda gurau khas santri di asrama. Yang ada hanyalah tatapan fokus dan kuda-kuda yang kokoh.
“Taekwondo di Ar-Rohmah itu bukan cuma soal bela diri atau keren-kerenan pakai dobok (seragam Taekwondo),” bisik Fahri dalam hati, mengingat pesan Sabeum di awal latihan. “Ini tentang melatih zikir lewat disiplin fisik, mengontrol emosi, dan menjaga kehormatan diri sebagai seorang muslim.”
Latihan dimulai dengan pemanasan fisik yang cukup menguras keringatāmulai dari lari memutari lapangan, push-up, hingga peregangan ekstrem untuk melatih kelenturan tendangan. Di bawah udara Malang yang mulai menggigit, keringat mereka justru bercucuran, menjadi bukti kerja keras yang nyata.
Tantangan Sabuk Biru
Saat sesi latihan tendangan (chagi), Fahri beberapa kali kehilangan keseimbangan saat mencoba Dollyo Chagi (tendangan melingkar). Kakinya terasa berat, mungkin karena kelelahan setelah jadwal pesantren yang padat sejak subuh tadi.
“Fahri! Fokus pada poros kakimu. Jangan terburu-buru menurunkan kaki sebelum tendanganmu selesai!” tegur Sabeum dengan tegas namun membimbing.
Fahri menarik napas dalam-dalam. Sebagai santri Ar-Rohmah, mental “pantang menyerah” sudah tertanam kuat. Dia kembali mengambil posisi.
- Langkah pertama: Kuda-kuda bersiap.
- Langkah kedua: Pinggul berputar.
- Langkah ketiga: Kiyap! (teriakan) meluncur bersamaan dengan tendangan yang melesat mulus mengenai target pad yang dipegang temannya.
“Bagus! Pertahankan itu!” puji Sabeum. Fahri tersenyum tipis, rasa lelahnya menguap begitu saja digantikan rasa puas.
Bukan Sekadar Fisik, Tapi Akhlak
Hal yang paling unik dari Taekwondo di Ar-Rohmah adalah bagaimana nilai-nilai kepesantrenan melebur di dalamnya. Di sini, tendangan yang tinggi tidak ada gunanya jika tidak dibarengi dengan rasa hormat kepada sesama.
Sebelum dan sesudah latihan, para santri selalu membiasakan diri untuk bersalaman dan saling mendoakan. Tidak ada senioritas yang menindas; yang ada adalah senior yang membimbing dan junior yang menghormati.
Saat azan Magrib berkumandang dari masjid pesantren, latihan langsung dihentikan seketika. Tanpa perlu diperintah dua kali, para santri Taekwondo langsung merapikan matras dan peralatan latihan, lalu bergegas menuju tempat wudu.
Menuju Ujian Kenaikan Tingkat
Satu minggu berlalu, hari ujian yang dinanti pun tiba. Lapangan Ar-Rohmah dipenuhi oleh penguji dari Pengcab Taekwondo Malang. Fahri berdiri di barisannya dengan seragam dobok yang rapi dan wangi.
Saat namanya dipanggil ke depan untuk demonstrasi Taegeuk dan teknik pemecahan papan (kyukpa), jantungnya berdegup kencang. Namun, begitu dia melihat teman-teman sesama santri memberikan semangat dari pinggir lapangan, rasa gugup itu berubah menjadi energi.
Dengan gerakan yang tegas, tajam, dan penuh percaya diri, Fahri menyelesaikan seluruh rangkaian ujian. Puncaknya, sebuah tendangan Dwi Chagi (tendangan belakang) darinya berhasil memecahkan papan kayu tebal dalam sekali coba. Suara riuh tepuk tangan langsung menggema.
Akhir yang Manis
Sore itu ditutup dengan pengumuman kelulusan. Fahri resmi menyandang sabuk biru. Sambil memandangi sabuk barunya, dia sadar bahwa setiap keringat yang tumpah di lapangan Ar-Rohmah di antara sela-sela mengaji dan belajar, telah menempanya menjadi pribadi yang lebih kuatābaik secara fisik, mental, maupun spiritual.
Bagi Fahri dan santri lainnya, Taekwondo di Ar-Rohmah bukan sekadar ekstrakurikuler, melainkan jalan untuk membuktikan bahwa seorang santri juga bisa menjadi kesatria yang tangguh di gelanggang.

Tinggalkan Komentar