Ksatria Berpelana dari Ar-Rohmah
Sore itu, udara sejuk khas lereng gunung di Malang menyelimuti area Pondok Pesantren Ar-Rohmah. Di sudut lapangan yang luas, debu tipis mulai berterbangan seiring dengan suara langkah kaki yang mantap. Bukan melangkah di atas sepatu futsal atau lari, melainkan derap langkah kaki-kaki kokoh berladam besi.
Bagi Hanif, santri kelas VIII, sore ini adalah waktu yang paling dinanti dalam seminggu: jadwal ekstrakurikuler berkuda.
Bukan Sekadar Olahraga
Di Ar-Rohmah, ekskul berkuda bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang atau gaya-gayaan. Sejak hari pertama bergabung, Ustadz Rahman, sang pelatih, selalu mengingatkan esensi dari olahraga ini.
“Berkuda itu melatih kepemimpinan, keberanian, dan kesabaran. Ini adalah olahraga sunnah. Di atas punggung kuda, kalian belajar mengendalikan ego. Kalau kalian egois, kuda tidak akan mau patuh.”
Kata-kata itu tertanam kuat di benak Hanif. Hari ini, tantangannya luar biasa. Dia tidak lagi dipasangkan dengan “Bintang”, kuda poni cokelat yang relatif tenang. Sore ini, dia mendapat giliran menunggangi “Guntur”, seekor kuda jantan lokal super setinggi bahu orang dewasa dengan bulu hitam legam yang terkenal agak keras kepala.
Menaklukkan Rasa Takut
Hanif berdiri di depan Guntur. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Guntur mengibaskan ekornya, lalu mendengus keras, membuat Hanif reflek melangkah mundur.
“Ingat rumusnya, Nif,” celetuk Ustadz Rahman dari tepi lapangan sambil membenarkan posisi helm berkuda Hanif.
Ustadz Rahman selalu menekankan 3 Aturan Emas Berinteraksi dengan Kuda:
- Dekati dari samping kiri: Jangan pernah mengejutkan kuda dari belakang.
- Salurkan ketenangan: Kuda bisa merasakan detak jantung dan kecemasan penunggangnya.
- Gunakan otoritas yang lembut: Jadilah pemimpin yang tegas, bukan penindas.
Hanif menarik napas dalam-dalam. Dia mengusap leher Guntur yang kokoh, mencoba menyelaraskan energinya. Ajaib, Guntur yang tadinya gelisah mulai merundukkan kepala, membiarkan Hanif memasang tali kendali dengan pas.
Momen di Atas Pelana
Dengan satu gerakan mantapākaki kiri di sanggurdi, tangan kiri memegang mane (rambut leher kuda), dan dorongan kaki kananāHanif berhasil naik ke atas pelana. Pandangannya langsung berubah. Dari atas sini, kompleks pesantren Ar-Rohmah terlihat berbeda. Lebih megah.
“Bismillah…” bisik Hanif.
Sesi latihan dimulai dengan walking (berjalan pelan) untuk pemanasan. Hanif menggerakkan tumitnya tipis ke perut Guntur. Kuda hitam itu melangkah maju. Setelah beberapa putaran, Ustadz Rahman memberi komando untuk menaikkan ritme menjadi trotting (berlari kecil).
Di sinilah seninya. Tubuh Hanif harus bergerak seirama dengan lambungan punggung Guntur. Jika salah ritme, punggungnya akan terasa sakit dan kuda akan merasa tidak nyaman.
Satu, dua, bangkit, duduk, bangkit, duduk…
Hanif berhasil! Angin sore menerpa wajahnya yang mulai basah oleh keringat. Rasa takut yang menggelayut sejak siang tadi menguap begitu saja, berganti dengan rasa percaya diri yang membuncah. Di atas Guntur, Hanif merasa seperti seorang ksatria yang siap menjelajah peradaban.
Pulang dengan Jiwa Baru
Sesi satu jam terasa berlalu dalam lima menit. Ketika peluit akhir berbunyi, Hanif turun dari pelana dengan kaki yang sedikit gemetar karena lelah, namun senyumnya terkembang lebar. Sebelum membawa Guntur kembali ke kandang, Hanif memberinya potongan wortel segar sebagai hadiah atas kerja sama mereka.
Sambil berjalan menuju asrama menjelang kumandang azan Magrib, Hanif menyadari sesuatu. Ekstrakurikuler berkuda di Ar-Rohmah ini tidak hanya mengajarinya cara menunggangi hewan, tetapi juga mengajarkannya cara ‘menunggangi’ emosi dan mengendalikan diri sendiri menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Tinggalkan Komentar